Semakin majunya perkembangan zaman dan teknologi di era kini, menuntut masyarakat lebih kritis menyikapi kemajuan tersebut, termasuk tentang kesehatan tubuh mereka. Di era “zaman now” kini masyarakat sangat peduli terhadap dimana fasilitas kesehatan yang baik dan standart pelayanan kesehatan yang akan mereka terima. Masyarakat era kini juga menuntut para petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan standart yang berlaku.
Profesi sebagai bidan pun juga tak luput dari sorotan masyarakat era kini. Bidan selain sebagai petugas kesehatan, terkadang juga dianggap masyarakat layak untuk turut serta dalam pemecahan berbagai masalah di masyarakat. Utamanya bidan mempunyai tugas merawat wanita dari masa remaja, masa subur (usia 25-35 tahun), masa pre menopause hingga menopause.
Profesi bidan memang dianggap sebagai profesi yang mulia. Bagaimana tidak, profesi ini mengemban tugas yang istimewa mulai dari memberikan asuhan bagi remaja putri sebelum menikah sampai menjadi calon ibu, saat ibu tersebut menjalani masa pra konsepsi (sebelum kehamilan) sampai dengan masa konsepsi (kehamilan), dilanjutkan dengan asuhan persalinan sampai dengan masa nifas (masa setelah melahirkan). Tidak berhenti disini, tugas bidan masih berlanjut dengan memberikan asuhan pada bayi baru lahir sampai dengan balita. Bidan juga akan melanjutkan perawatan terhadap keluarga baru tersebut termasuk membantu mengatur jarak kelahiran anak pada keluarga baru.
Pentingnya asuhan yang diberikan oleh seorang bidan di sepanjang siklus kehidupan inilah yang mengilhami PRODI DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan UMSIDA untuk mencetak lulusan bidan dengan kompeten. Lulusan yang kompeten tersebut dapat terwujud apabila seorang mahasiswi kebidanan mendapat pembelajaran dan pengalaman yang memadai selama perkuliahan. Pembelajaran di kelas memberikan dasar keilmuan teoritis sebagai ilmu inti dalam asuhan kebidanan. Sedangkan pengalaman yang diberikan berupa praktikum laboratorium sebagai skill memperkuat dasar ilmu yang didapat.
Praktikum laboratorium dapat diperoleh dari praktikum di institusi pendidikan maupun di luar institusi pendidikan yang mempunyai perjanjian kerjasama dengan PRODI DIII Kebidanan. Sarana praktikum di lahan pendidikan terdiri dari 5 laboratorium. Ada laboratorium ANC (Antenatal Care), INC (Intranatal Care), PNC (Postnatal Care), Bayi dan Balita, KB (Keluarga Berencana) dan Kespro (Kesehatan Reproduksi), serta laboratorium Central dan Anatomi. Sedangkan sarana praktikum di luar institusi pendidikan meliputi BPM (Bidan Praktik Mandiri), RB (Rumah Bersalin), Klinik Bersalin, RS (Rumah Sakit) Swasta maupun Pemerintah. Mahasiswi akan melakukan praktik di luar institusi dalam muatan PKK (Praktik Klinik Kebidanan).
Laboratorium kebidanan yang tersedia di institusi pendidikan ini dilengkapi dengan fasilitas yang memadai sebagai gambaran suasana praktik di luar institusi nantinya. Dengan kemiripan lahan praktik di institusi dengan yang di luar, diharapkan mahasiswa dapat beradaptasi dan memperoleh skill praktik yang mumpuni. Mahasiswa akan mendapat pendampingan dari dosen pengajar pada saat praktikum pertama, selanjutnya didampingi oleh laboran (pengelola laboratorium). Setelah mendapat pendampingan dari dosen dan laboran, mahasiswa dapat melanjutkan praktikum guna melatih skill laboratorium secara mandiri (sendiri).
Praktikum laboratorium di institusi DIII Kebidanan UMSIDA, meliputi Praktikum Tahap I, II, III, dan IV. Praktikum dan Uji Tahap I memuat materi KDPK I dan II (Keterampilan Dasar Praktik Klinik) yang ini akan menunjang skill mahasiswa saat melakukan praktikum di Rumah Sakit pada PKK I (Praktik Klinik Kebidanan). Praktikum dan Uji Tahap II dan III untuk persyaratan PKK II, sedangkan Praktikum dan Uji Tahap IV untuk persyaratan PKK III dan IV.
Mahasiswa semester I, sudah mendapatkan muatan materi praktikum laboratorium. Sebagai mahasiswa baru, mereka mulai dibiasakan untuk mengasah skill praktikum guna persiapan uji Tahap I yaitu ujian praktik pertama. “Saya tidak kaget mbak kalau sekolah bidan banyak praktiknya.. sebab dulu saat SMA saya juga mendapat materi itu hanya tidak terlalu banyak…. ” kata Mirza yang merupakan alumi salah satu SMK Kesehatan di Sidoarjo. Namun beda halnya dengan Mahasiswi Prodi DIII Kebidanan Semester I Arsita, gadis tinggi ini kaget kalau awal masuk kuliah sudah harus mempelajari teori dan praktikum yang banyak. “Saya kaget mbak, awal-awal masuk kok sudah praktik-praktik teruss… bingung mbak….” Wajar memang jika mahasiswa baru berfikir demikian. Karena jika menuntut ilmu di kebidanan banyak praktiknya. Ilmu di kebidanan berkelanjutkan dari semester I (satu) hingga semester VI (enam). Begitupun dengan praktiknya akan berkelanjutan mengikuti teorinya.
Mahasiswa semester I (satu) memulai perkuliahan sejak Bulan September hingga Desember 2017 ini mulai melakukan praktikum mandiri mulai tanggal 01 s/d 15 Januari. Ada yang sangat bersemangat dengan praktikum ini karena rasa ingin tahu yang besar, namun ada juga yang lelah karena harus praktik dari pagi hingga sore. Seperti kata Mahasiswa kebidanan semester I Monique,”Saya capek mbak, praktik terus… ingin libur.” Beda lagi dengan kata Amalia, mahasiswi ini justru senang karena mendapat ilmu dan skill baru,”Praktik begini suasana lebih santai mbak daripada pelajaran di kelas. Sehingga teori pelajaran lebih ngena… ”. Mereka yang mulai menjalani Uji Tahap I sejak tanggal 15 januari kemarin tidak merasa kesulitan saat ujian karena sudah berlatih secara mantap di laboratorium kebidanan. Jadi, terjawab sudah apa sih pentingnya praktikum di pendidikan DIII Kebidanan. Praktikum tidak terasa berat untuk mahasiswa tetapi sangat membantu kemampuan dan skill mahasiswa jika dilakukan sesuai jadwal yang tersedia.

Related Post