Tak banyak orang yang mengerti tentang Organisasi Muhammadiyah. Bagi sebagian orang, Muhammadiyah dianggap organisasi elit sehingga banyak anggotanya yang berasal dari kaum menengah ke atas. Bagaimana tidak, sekolah- sekolah yang didirikan Muhammadiyah terkenal dengan biaya yang mahal. Pandangan yang seperti ini menyebabkan golongan kaum menengah ke bawah kurang “kenal” dengan Muhammadiyah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Bicara tentang Organisasi Muhammadiyah sebenarnya berbicara tentang kemaslahatan umat, yakni berupaya melakukan hal- hal bermanfaat untuk kesejahteraan umat dengan tidak melihat status sosial umat. Dari kaum tidak mampu sampai dengan kaum intelek semua menjadi sasaran dakwah Muhammadiyah.

Organisasi Muhammadiyah juga menghimpun organisasi khusus perempuan yang bergerak dalam bidang dakwah agama Islam yaitu Aisyiyah. Aisyiyah bergerak di bidan sosial keagamaan perempuan yang bergerak dalam bidang dakwah untuk membantu masyarakat mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat (amar makruf nahi munkar tu’minubillah). Aisyiyah didirikan oleh istri Kyai Haji Ahmad Dahlan yaitu Nyai Walida pada Tahun 1914. Awalnya organisasi ini dikenal dengan nama “Sopo Tresno” dalam Bahasa Indonesia artinya “Siapa Suka” di Yogyakarta. Kegiatan awal yang diadakan oleh organisasi yaitu mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan tujuan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an pada kaum perempuan. Kemudian dilanjut dengan gerakan menertibkan pakaian perempuan, mendorong tumbuhnya industri kerudung songket di daerah Kauman. Dengan pesatnya pertumbuhan industri kerudung songket ini kemudian mampu digunakan untuk membiayai organisasi Aisyiyah. Ini mencerminkan pesatnya pertumbuhan dakwah Aisyiyah sejak dahulu.

Aisyiyah mampu melaksanakan tujuannya dengan peran serta kader-kadernya. Khususnya, kader Aisyiyah adalah perempuan. Sedangkan bidan juga merupakan seorang perempuan. Jadi, seorang bidan yang menekuni Aisyiyah juga merupakan seorang kader. Yang dimaksud kader Aisyiyah bukan hanya sebagai kader persyerikatan saja, tetapi juga merupakan kader bagi nusa dan bangsa. Dalam hal ini, bidan dianggap sebagai Mubaligh (pemimpin) di masyarakat, untuk memajukan dan memberdayakan masyarakat yang sehat tapi juga agamis sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

“Bidan Aisyiyah prajurit Allah.. Putri perwira, pribadi mulia… Kami menjunjung niat yang tulus… Kami menjunjung maksud yang kudus….” Itulah sepenggal lirik lagu Mars Bidan Aisyiyah yang syarat makna. Berdasarkan lagu tersebut seorang bidan Aisyiyah merupakan prajurit Allah yang melakukan tugas mulia dengan ikhlas dan maksud yang suci. Sebagai mahasiswi kebidanan UMSIDA, diharapkan mempunyai penciri kepribadian yang luhur sesuai tuntunan dan punya mental sebagai pemimpin. Mengapa demikian ?? karena ada beban besar yang diemban pada pundak seorang bidan di masyarakat saat bekerja nanti. Baik beban dari almamater UMSIDA, organisasi Aiyiyah, dan Muhammadiyah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Menurut Ketua Pusat AIPKEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah dan Aisyiyah), Dr Mufdillah SPd SSiT MSc selaku pengisi materi kuliah tamu mengatakan,”Seorang bidan lulusan UMSIDA adalah bidan Aisyiyah. Bidan Aisyiyah yang berperan penting dalam member promosi kesehatan di masyarakat sebagai amar makruf nahi munkar. Apa maksudnya ?? yaitu melakukan segala usaha pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT dan tentunya hal ini akan menjadi tabungan amal di akhirat… .” Menurut Bu Dillah sapaan akrabnya, sudah banyak bentuk kegiatan pemberdayaan di masyarakat oleh Bidan Aisyiyah antara lain dengan menggerakkan “Desa Siaga”. Desa Siaga adalah desa yang baik yang diharap dapat mengembangkan nilai-nilai yang baik di masyarakat. Tugasnya siapa untuk membina Desa ini, yaitu tugas bidan. Bentuk lain dari kegiatan bidan di masyarakat yaitu dengan adanya bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang mempunyai peran tidak hanya untuk menurunkan AKI/AKB (Angka Kematian Ibu/ Angka Kematian Bayi) tetapi juga untuk membangun Desa.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi bidan sebagai perempuan di masyarakat, tetapi bidan tetap harus lebih peka terhadap sesama perempuan terutama terhadap kebijakan- kebijakan maupun peraturan di masyarakat yang merugikan perempuan. Untuk menghadapi tantangan yang besar ini, selama pendidikan kebidanan di institusi mahasiswi juga dibekali nilai-nilai Muhammadiyah sesuai dengan agama Islam. Pembelajaran etika dan Al Islam Kemuhammadiyahan yang diajarkan akan bermanfaat jika terintegrasi dengan semua mata kuliah. Adanya kaitan dengan implementasi tersebut menjadi makna pembelajaran yang sesungguhnya.

Dengan demikian, lulusan Bidan Aisyiyah adalah bidan yang mempunyai kerjasama tim dengan baik, dan mampu mengembangkan diri sebagai seorang pemimpin professional dan berpikir berkemajuan. Setelah lulus dari dunia pendidikan dan bekerja di masyarakat harus mampu menjadi pemimpin masyarakat yang dapat bekerjasama dengan berbagai Tokoh Masyarakat untuk memberdayakan masyarakat. Selain itu, sebagai bidan lulusan UMSIDA, harus punya daya saing tingkat Nasional sesuai Visi UMSIDA yaitu berdaya saing tingkat Nasional Tahun 2020.

 

Related Post

Type your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *